Review Film Everest (Imax)

Ada sebuah tempat yang paling tinggi diantara yang lainnya, sebuat tempat diatas awan dimana kita bisa mengejar mimpi. Sebuah tempat dimana hanya yang kuat dan beruntung yang dapat bertahan hidup. (Everest)

Mendaki di “Death Zone”, tentunya tubuh manusia secara perlahan akan merasakan kehausan pada oksigen, sebuah kesalahan sedikit pun bisa sangat berakibat fatal, udara dingin dan angin akan selalu mengancam bekunya jari dan tangan. Dan diantara kondisi-kondisi tersebut masih ada yang ingin mencoba menciptakan sejarah.

David Breashears, yang telah membuat film tentang gunung tertinggi di dunia sebanyak sembilan kali adalah seorang cinematographer dan sutradara film Everest yakni sebuah film yang diproduksi MacGillivray Freeman Film bekerjasama dengan perusahaan Breashers Arcturus Motion Pictures. Breashears yang pernah mendaki Gunung Everest sebanyak empat kali adalah orang Amerika pertama yang mencapai puncak dua kali dan orang pertama yang menyiarkan langsung gambar TV dari ketinggian 29,028 kaki

Everest adalah Film kisah nyata (Dokumenter) yang dramatis tentang Expedisi Pendakian pada tahun 1996. Bercerita tentang perjuangan beberapa pendaki gunung yang berusaha memanjat mencapai puncak gunung tertinggi di muka bumi yang terletak di wilayah Himalaya Nepal. Film ini dibuat beberapa hari setelah kejadian paling buruk yang pernah terjadi dalam sejarah Everest, yang memakan korban rekan-rekan mereka (Rob Hall, Dkk & Scott Fischer, Dkk) akibat terjebak dalam badai salju mematikan didekat puncak.

Film ini dirilis oleh IMAX Teater pada tahun 1998, dengan Pemerannya antara lain : Jamling Tenzing Norgay, Ed Viesturs, Araceli Segarra, Sumiyo Tsuzuki dan Paula Viesturs


Dalam Film berdurasi 45 menit yang diriwayatkan oleh Liam Neeson ini mencakup asal muasal terbentuknya Gunung Everest, Tata krama pendakian, Deskripsi jelas tentang pelatihan dan cara menghadapi tantangan yang dibutuhkan oleh seorang pendaki gunung es, seperti longsoran dan kurangnya oksigen serta cerita tentang penyelamatan Dr. Beck Weathers yang mengalami frostbite akibat terjebak dalam badai salju mematikan selama 22 jam. (Beck Weathers adalah salah satu pendaki yang selamat dari tragedi yang menewaskan Rob Hall dkk & Scott Fischer, Dkk, pada tahun 1996)

Tim Pendakian

Ekspedisi Film Everest ini dipimpin oleh Ed Viesturs dari Seattle, yang telah mencapai puncak Everest sebanyak 4 kali. Ed berangkat ke Base Camp Manager (Everest) bersama istrinya Paula, tepat 2 minggu setelah ia menikah. Dalam Ekspedisi ini Ed berencana mencapai puncak tanpa menggunakan tabung oksigen.

Ed, akan ditemani oleh seorang pemanjat tebing wanita yang juga seorang Model dari Spanyol, Araceli Segarra. Jika Araceli berhasil mencapai puncak dalam Ekspedisi ini, dia akan menjadi wanita Spanyol yang pertama dalam sejarah pendakian Everest.

Pendaki wanita lainnya adalah Sumiyo Tsuzuki, pendaki wanita dari Jepang yang berharap akan menjadi wanita kedua dalam sejarah negaranya pada pendakian Everest.

Dan, Jamling Tenzing Norgay anak kandung seorang legenda Sherpa Tenzing Norgay, yang berhasil mengantarkan Sir Hillary mencapai puncak Everest pada tahun 1953 dengan selamat. Dimana riwayatnya  dapat kita saksikan dalam pembukaan Film ini.

Ekspedisi Film Everest ini juga mengikutsertakan seorang Geologis bernama Roger Bilham, dimana ia akan mempelajari bebatuan dan bagaimana gunung ini terbentuk.

Selain 4 Pendaki dan 1 Geologis diatas, Ekspedisi ini juga dibantu oleh 35 Sherpa yang bertugas memasak di basecamp, membawa peralatan pendakian dan pembuatan film. "Menyusuri Crevasses yang dalam, mendaki tanjakan, dan mengangkat pecahan es adalah pekerjaan yang harus dilakukan".

Ekspedisi ini sendiri mengambil dan mengikuti rute pendakian pada saat Tenzing Norgay & Sir Hillary mencapai puncak pada tahun 1953, dengan titik keberangkatan dari Biara Thyangboche di ketinggian 13.000 kaki.

Badai Mematikan

Tak hanya Tim Ekspedisi Film Everest yang berencana mendaki Gunung ini, sepuluh tim Ekspedisi lainnya mulai berdatangan di Everest Base Camp, yang kemudian merubah tempat ini seperti sebuah kota kecil berpenghuni 300 orang. Dua dari para pemimpin ekspedisi lainnya ini adalah seorang dari New Zealand bernama Rob Hall dan seorang Amerika bernama Scott Fischer yang juga kawan baik Ed Viesturs.

Keputusan tim untuk menunggu terbukti adalah keputusan yang bijaksana. Pada tanggal 10 Mei, 23 pendaki dari tiga tim ekspedisi merayakan keberhasilannya di puncak. Namun begitu mereka turun, keberhasilan itu menjadi malapetaka ketika badai dahsyat menerjang mereka. Hilang dalam kegelapan di “Death Zone” mencari jalan kembali menuju Camp IV di South Col, delapan orang hilang ditelan badai. Dua orang diantaranya adalah Rob Hall dan Scott Fischer.

Kembali ke gunung adalah sesungguhnya keputusan pribadi dari masing-masing anggota tim. Viesturs tidak menginginkan perasaan duka terus bergayut di gunung. Ia ingin mengingatkan pada dirinya sendiri dan orang lain bahwa mendaki Everest bisa dilakukan dengan aman. Araceli Segarra, yang telah memberikan waktu dan usaha penuh bagi ekspedisi ini memutuskan untuk mencoba mendaki puncak. Pada tanggal 17 Mei anggota tim Film Everest meninggalkan Base Camp sebagai sebuah upaya akhir untuk memasang peralatan sains di High Camp. Dan jika cuaca mengijinkan mereka akan mencoba keberuntungan mendaki hingga puncak.

Pendakian Ke Puncak

Ed Visteurs meninggalkan tim satu jam lebih awal yaitu sekitar pukul 10 malam. Perjalananan dalam salju sedalam lutut dan mendaki tanpa bantuan oksigen, ia berharap anggota tim lain akan segera menyusulnya. Walaupun jarak antar South Col dengan puncak hanya sekitar 1.5 mil, namun para pendaki harus melampui tanjakan dengan kecepatan 12 kaki setiap menitnya.

Para anggota tim melewati tubuh Rob Hall dan Scott Fischer. “Menyaksikan mayat Rob Hall adalah hal terberat dalam proses pendakian,” kata Segarra, ”Dia berada di tempat dimana kita memerlukan konsentrasi, bukannya tempat dimana kita membuat kesalahan.” lanjutnya.

Sekitar pukul 10.55 pagi Ed Viesteurs menyampaikan kabar ke Base Camp melalui radio, sembari memberi tahu bahwa ia terus berusaja menunggu yang lainnya. Namun Ed tidak mampu menunggu lebih lama lagi. Tanpa bantuan oksigen, tubuhnya menjadi dingin sehingga ia harus segera turun. Dan Pada pukul 11.35, Jamling, Araceli, dan Sherpa Lhakpa Dorje, Thilen, dan Lhakpa Moktu mencapai puncak.

Dengan penataan suara dan kualitas gambar yang memukau, film Everest ini sangat layak untuk ditonton dan juga dapat dijadikan referensi untuk pendaki-pendaki pemula.

Film ini bisa anda saksikan di Youtube, yang terpecah ke dalam 4 bagian. Atau Anda bisa membeli DVD Film Everest (Imax) disini :

5 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...